Dilarang Berbuat Aniaya

GURU SUFI MELARANG BERBUAT ANIAYA

*

Salah satu pedoman hidup para Nabi dan orang-orang suci adalah “tidak berbuat aniaya”.

Aniaya adalah melakukan perbuatan atau tindakan yang merugikan kemanusiaan. Golongan yang selamat adalah yang tidak menganiaya DIRI dan LINGKUNGAN.

Termasuk dalam makna lingkungan yakni manusia lain, dan alam sekitarnya.

Maksud dari menganiaya diri adalah BERKELUH KESAH.

Dalam keseharian kehidupan, kita sering menjumpai orang-orang yang menganiaya diri sendiri. Celakanya, tindakan menganiaya diri sendiri ini  menulari lingkungan, menimbulkan aura negatif dan melemahkan semangat hidup.

Sebahagian dari ciri-ciri orang yang menganiaya diri sendiri, seperti :

1. Sering bicara tentang nasibnya yang malang dan tidak beruntung.
Menyadari kekurangan adalah awal yang baik – bagian dari instrospeksi untuk mengubah kekurangan menjadi kelebihan. Tetapi mengekspos nasib malang dan kekurangan tak ubahnya pengemis di lampu merah yang mengekspos cacat untuk kepentingan diri sendiri.

2. Tidak menyukai semangat orang lain dan berusaha menahannya.
Ingatlah, perbuatan merintangi jalan beraura negatif dan akan kembali kepada diri sendiri sebagai gelombang negatif juga. Orang yang menghambat orang lain sebenarnya sedang menganiaya diri sendiri.

Bertemu dengan manusia yang menganiaya diri sendiri, seperti melihat ilalang kering disiram minyak lalu kejatuhan puntung rokok. Ia akan terbakar dengan cepat dan menyebar ke segala arah.

Orang semacam ini akan mempengaruhi kehidupan di sekelilingnya menjadi lesu, penuh hal membosankan serta tak lagi bersemangat. Orang-orang yang menganiaya diri sendiri akan berusaha menganiaya orang-lain dengan pembicaraannya. Kehadirannya akan selalu membuat orang lain jengah dan risih.

Jangan sibukkan diri dengan memandang orang lain. Cobalah sibuk melakukan introspeksi, jangan sampai kita termasuk orang-orang yang menganiaya diri sendiri. Kenali dan selami penyakit hati dan kelemahan diri. Perbaiki dan hiasi diri dengan akhlak mulia serta jauhi tindakan aniaya.

Perhatikan ciri-ciri di bawah ini. Jika ada salah satu tercermin dalam keseharian kita, berarti lampu kuning telah menyala dalam hati dan jiwa. Berhati-hatilah!!!

– Tidak mempunyai orientasi masa depan (merasa diri lemah dan tidak mampu mengubah nasib)
– Tidak menyukai pekerjaan saat ini, tetapi tidak berani mencoba pekerjaan lain (jadi separuh waktu dalam pekerjaan digunakan untuk berkeluh-kesah)
– Tidak berani menerima tugas, karena takut menerima tanggung jawab lebih
– Merasa diri tidak mampu (padahal belum dicoba, selalu memandang dari sisi sulit)
– Menyalahkan orang lain (orang tua, keluarga atau lingkungan) untuk kegagalannya mengarungi hidup
– Menganggap tidak ada lagi peluang perubahan ke arah yang lebih baik
– Merasa hanya dirinya sendiri yang hidup dalam  kesulitan sekaligus mengharapkan orang lain memakluminya
– Merasa bahwa bekerja lebih baik dari yang sudah biasa dikerjakan itu tidak ada gunanya
– Menganggap orang lain tidak ada yang mengerti dirinya
– Menyangsikan niat baik dan ketulusan orang lain (Ingatlah. Seorang yang kikir dan tak pernah memberi, selalu meragukan pemberian orang lain. Seorang pembohong akan selalu meragukan kejujuran orang lain.)

Efek BURUK dari sikap dan perilaku menganiaya diri sendiri adalah :

– Merasa tidak nyaman dengan keberuntungan orang lain (ujungnya adalah iri hati dan merendahkan kemampuan orang lain)
– Selalu menganggap orang lain lebih beruntung
– Selalu melihat sisi buruk dari sebuah situasi atau keadaan (dan berujung pada mencari pembenaran terhadap kesalahan dan kegagalan).

Ψ

DOA


YA ALLAH, AKU BERLINDUNG KEPADAMU DARI ORANG-ORANG YANG BERBUAT ANIAYA
DAN LINDUNGILAH AKU DARI SIFAT ANIAYA

  1. 07/10/2009 pukul 15:27

    Selamat sore sufi, benar kata anda, jangan menahan kebaikkan kalau kita bisa melakukannya, hal tsb akan menimbulkan aniaya kepada orang lain. Dalam menghadapi segala sesuatu kita harus telaten, telaten mencegah kita untuk tidak cepat menyerah. Setiap hari kita menghadapi berbagai persoalan yang memforsir akal pikiran kita. Kita sering menjadi gamang dan pesimis karena nampaknya begitu berat. Muncul pemikiran bagaimana menyelesaikan secara cepat, mudah, tepat dan tanpa harus bersusah payah. Disinilah sikap telaten amat diperlukan. Mungkin saja persoalan tersebut nampaknya cukup berat sekali pandang, namun dengan ketelatenan kita akan menemukan celah-celah yang luput dari perhatian kita pada awalnya. Kita akan bisa melihat bahwa sebenarnya persoalan tersebut tidak sesulit yang kita duga. Terima kasih postingan yang bagus, Sukses untuk anda.

    Regards, agnes sekar

    • 08/10/2009 pukul 09:53

      Terimaksih untuk pencerahan dari @agnes sekar…
      Salam takzim.

  2. 20/10/2009 pukul 15:04

    Terima kasih

  3. 12/02/2011 pukul 15:54

    Nice post here, 🙂

  4. 13/07/2013 pukul 20:56

    A multitude of the better labeled lenders that offer such
    a service plans are: Payday Express; Quick Quid; Wonga; Speed-e-loans.
    This can create a desire for further loans, which then overlap to increase quick .
    pressure.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: