PERENUNGAN

Halaman ini saya dedikasikan kepada Anda untuk berbagi cerita dan sharing pengalaman pribadi. Tentu, agar siapapun yang membaca dapat mengambil hikmah dan manfaatnya.


® Tentang Memberi Dan Menerima

Artikel ini paling saya sukai, karena langsung menyentuh dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran saya mengenai adanya sunatullah dalam konsep Memberi Dan Menerima muncul lebih dari sepuluh tahun yang lalu.

Saat itu saya menerima tawaran pekerjaan dari seorang teman di NTT. Teman saya meminta saya datang ke Kupang segera.

Dengan bekal alamat dan nomor telepon rumah, akhirnya saya berangkat menuju NTT dengan menggunakan sarana kapal laut. Sejak di Pelabuhan Tanjung Perak, langkah saya benar-benar dimudahkan Allah SWT. Saat berebut naik KM  Dobon Solo saya memperoleh posisi di depan. Saat berebut tempat di ruang kelas III, telah menunggu preman-preman pelabuhan yang tanpa kompromi mengangkangi dipan (tempat tidur) penumpang. Dengan mudah saya bisa memperoleh tempat strategis – dengan membayar sejumlah uang ekstra.

Segera setelah kapal bertolak dari pelabuhan, saya yang baru pertama kali naik kapal laut segera berjalan-jalan berkeliling kapal dengan rasa ingin tahu. Akhirnya setelah puas berkeliling kapal, saya kembali ke dek, dan dengan terkejut saya melihat seorang ibu sedang menggendong bayi duduk di dipan saya bersama suaminya.

Sang suami segera minta maaf dan meminta pengertian saya agar mengijinkan istrinya menggunakan tempat tidur itu, bahkan ia bersedia mengganti biaya ekstra yang sudah saya keluarkan untuk membayar preman di pelabuhan, dua kali lipat.

Tanpa berpikir saya berkata kepada mereka : “Silakan dipakai saja tempat tidurnya, tidak perlu membayar. Hanya saja, saya titip tas dan ransel saya di bawah tempat tidur. Silakan.”

Saat itu saya belum menyadari arti perbuatan dan kata-kata saya itu.

Selama tiga hari dua malam, saya menjadi gelandangan di kapal. Tidur di kursi kantin, di tepi lorong-lorong dek, dan di mana saja asalkan punggung bisa bersandar. Apakah saya menyesal? Tidak. Walaupun sebagian pikiran saya mengatakan saya sembrono, tetapi hati saya tidak menyesali apa yang sudah saya lakukan.

Akhirnya, kapal yang saya tumpangi bersandar di Pelabuhan Kupang, tepat jam 12 malam. Anda bisa membayangkan betapa paniknya saya selama satu setengah jam berikutnya, saat saya menyadari bahwa teman yang mengundang saya tidak menjemput di Pelabuhan. Teknologi handphone masih dalam angan-angan. Usaha saya menelpon teman saya dari box telepon umum sia-sia, dering di ujung sana tidak diangkat.

Saya tetap berprasangka baik. Saya lalu menyewa tukang ojek untuk mencari alamat teman saya tersebut. Sesampainya di alamat yang dituju, saya segera mengetuk pintu rumah. Saya berharap teman saya muncul dan saya bisa beristirahat. Waktu saat itu sekitar pukul 02 dini hari.Ternyata harapan saya sia-sia….

Rumah yang saya tuju ‘suwung’, kosong tanpa penghuni. Sungguh, waktu itu saya tidak memperhatikan tukang ojek yang belum juga pergi meski sudah saya bayar upahnya.

Tukang ojek itu tiba-tiba saja berkata : “Mas, rumahnya kosong. Sepertinya teman mas tidak di tempat. Ayo mas, ikut saya. Ada kawan saya yang tinggal di komplek ini juga. Saya titipkan mas malam ini di rumahnya.”

Ajakan yang aneh menurut saya, tapi karena tidak punya pilihan lain saya mengiyakan. Jadilah saya dan tukang ojek pergi ke rumah orang yang tidak saya kenal. Tukang ojek yang baik hati itu ternyata seorang guru SMA di Kupang, menjadi tukang ojek adalah sambilannya. Dan dini hari itu, sang guru melompati pagar rumah orang – rekannya sesama guru – mengetuk pintunya dan menitipkan saya.

Rumah yang cukup besar, tetapi anehnya sepi. Tuan rumah mengatakan bahwa istri dan anaknya sudah kembali ke Jawa, sementara ia sendiri menunggu surat mutasi ke Jawa. Setelah basa-basi, saya diantarkan ke sebuah kamar untuk beristirahat. Saya segera membersihkan diri dan bersiap-siap untuk tidur.

Saat berbaring, dengan kondisi badan lelah dan kantuk yang cepat datang itulah…Byarr!

Sesuatu muncul seperti cahaya kilat yang hanya sekejap. Saya gelagapan tersadar, segera melompat dan sujud syukur. Sunatullah.

Anda tahu. Kejadian yang saya alami adalah sunatullah yang bisa dilihat dan dirasakan. Saya telah melupakan bahwa tiga malam sebelumnya saya telah memberikan tempat tidur kepada seorang Ibu dan bayinya. Tempat tidur papan yang keras, tanpa selimut, apalagi bantal dan guling.

Allah membalas dengan berlipat ganda. Di saat saya membutuhkan. Tempat tidur dengan kasur empuk, ruang yang bersih, selimut dan bantal dan tuan rumah yang tersenyum dan tidak bertanya-tanya. Kontan.

Anda boleh menyebutnya miracle, keajaiban. Tetapi saya menyebutnya sunatullah. Bahkan belum lewat satu minggu saya telah melupakan nama-nama pemilik rumah itu, tukang ojek, juga Ibu dan bayinya.

Tidak satupun daun yang jatuh kecuali Dia Mengetahuinya.

Kalau Anda mengira keajaiban berhenti di situ, saya berani mengatakan bahwa Anda salah. Setelah byarr di sebuah rumah tak dikenal di kota Kupang, sepanjang hidup saya terus menerus mengalaminya, bahkan hingga hari ini. Apa yang saya berikan dengan hati, akan dikembalikan kepada saya dengan kualitas berpuluh kali lipat. Kontan.

Dan saya temukan banyak ayat Kitab Suci dan hadits Nabi penuh dengan isyarat ini. Cobalah Anda telaah kembali ucapan Imam Syafi’i saat membacakan surah Al Ashr  : cukuplah sekiranya Allah menurunkan SURAH ini sebagai pedoman manusia.  Surat yang penuh dengan isyarat dan rahasia sunatullah tentang memberi dan menerima.

Anda ingin contoh sejarah nyata? Bacalah biografi Khulafaur Rasyidin dan khalifah setelahnya. Bacalah sejarah para tokoh dunia. Bacalah konsep para CEO paling sukses. Bacalah kisah hidup Budha, Konfusius, Lao Tse. Bacalah kisah hidup para sufi.

Semua berakar dari MEMBERI. Apa yang mereka berikan akan kembali berlipat kepada diri mereka sendiri. Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, dan Umar bin Abdul Aziz adalah contoh terbaik. Mereka telah memberikan seluruh perhatian dan pengabdian kepada umat manusia. Dan mereka menerima penghormatan dan perhatian seluruh manusia hingga sekarang, namanya disebut-sebut dengan penuh kekaguman dan haru. Bandingkan dengan khalifah selain itu – mereka meminta perhatian dan penghormatan dari umat. Maka yang mereka terima hanyalah perhatian dan penghormatan di saat mereka hidup saja.

Sesungguhnya, sunatullah berlaku universal, kapanpun, di manapun.  Tidak akan Anda temukan ada perubahan pada sunatullah.

*****

Artikel terkait :

_____

  1. 07/08/2009 pukul 15:35

    Assalamu’alaikum,
    Subhaanallah, memang benar Mas Reva, kalau kita memberi dengan tulus, ikhlas, maka Allah SWT lah yang akan menggantinya/membalasnya. Kebaikan yg kita lakukan, akan berbalas kebaikan juga. Allah SWT berfirman: “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Al-Zalzalah:7-8). Dan komentar atau tambahan yg Mas Reva berikan di tulisan saya sangat tepat dan benar, terima kasih mas Reva.
    (Dewi Yana)

    • 07/08/2009 pukul 20:56

      Betul sekali Bu Dewi.
      Sayangnya kesadaran makna “memberi” itu tidak dimiliki setiap orang.
      Bahkan jika seorang atheis sekalipun, jika dengan tulus melakukan tindakan “memberi”, diapun akan menerima balasan (secara fisik duniawi). Karena saya yakin bahwa Sunatullah tidak membedakan jenis kelamin dan agama, seperti matahari yang bersinar untuk siapa saja.
      Apalagi bagi orang beragama yang percaya kepada Sang Pengatur Jagat Raya – Allah SWT.
      Salam sukses selalu.

  2. quantumillahi
    15/08/2009 pukul 11:15

    mhn ijin bersilaturahmi mas/mbak refa, sukses selalu dg crita2nya, semoga tambah ramai yg berkunjung.

    • 16/08/2009 pukul 17:42

      terimakasih sudah menyambung silaturahim…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: