Beranda > Wejangan Guru > Guru Sufi dan Ilmu Manajemen

Guru Sufi dan Ilmu Manajemen

Pada suatu kesempatan, seorang Direktur perusahaan multinasional bertemu dengan Sang Guru. Ternyata mereka teman sepermainan sewaktu kecil. Dalam kesempatan itu, Sang Guru sufi mengajak Sang Direktur untuk datang ke pondoknya dan belajar sebagai murid sufi.Tentu saja Sang Direktur menolak walau tidak secara berterang, karena dengan menjadi murid berarti ia harus tunduk pada Sang Guru yang notabene adalah ‘bekas’ kawannya.

Sang Direktur lalu berkata, “Aku terlalu sibuk dan belum mempunyai waktu luang. Bagaimana jika beberapa karyawanku kukirim ke pondokmu untuk belajar?”

Sang Guru menjawab, “Alhamdulillah, begitupun baik.”

Sang Direktur lalu kembali ke kantornya dan mengumpulkan semua HRD dari beberapa perusahaannya. Ia meminta data karyawan, dari level OB hingga level manajer dan kepala cabang, lalu dipilihnya tujuh orang dalam ‘daftar hitam’ yang sudah masuk daftar tunggu SP3. Lalu dikirimnya tujuh orang itu kepada Sang Guru. Harapan Sang Direktur adalah agar bisa menghindar dari ajakan Sang Guru sufi sekaligus punya alasan untuk mengeluarkn SP3. Sekali tepuk 2 lalat, pikirnya.

Sementara 7 karyawan itu ‘menghilang’ dari kantor, Sang Direktur bertanya-tanya mengenai sufi kepada beberapa relasinya. Pada hari kesebelas muncullah ketujuh karyawan di hadapan Sang Direktur.

Direktur : Bagus, kalian sudah kembali. Duduklah semua! Aku mau bertanya kepada kalian semua… Hmmm.. Kalian sepertinya gembira telah bebas dari kungkungan penjara?

  • Staf Admin A : Kami gembira karena disana kami melihat surga.

Direktur : Surga? Jangan main-main. Bukankah kalian tersiksa disana? Tidak ada kesenangan dan hiburan…

  • Sekretaris B : Senang sekali bisa meninggalkan neraka masa lalu.

Direktur : Hmm… Kudengar kalian harus menimba air untuk mandi dan mencuci selama di sana?

  • Office Boy C : Sekaligus kami menimba ilmu kehidupan.

Sang Direktur semakin terheran-heran. Apa yang didengarnya sekarang berbeda dengan persepsinya.

Direktur : Bukankah kalian menjadi kacung disana? Menebang pohon dan memotong-motongnya untuk kayu bakar? Menyiangi rumput di halaman rumah Guru, menyapu, membersihkan pondok?

  • Manager Personalia D : Itu bagian dari kerjasama kelompok. Fokus pada tujuan dan setia pada kesepakatan.

Direktur : Bukankah kalian kurang tidur selama sepuluh hari ini? Dan kalian dipaksa bangun sementara enak-enak tidur?

  • Kepala Bagian E : Lebih banyak terjaga membuat mata kami lebih terbuka melihat kekurangan. Shalat malam dan dzikir pagi membuat kami mengerti arah tujuan.

Direktur : Bagaimana dengan makan dan minum yang ditakar, dengan menu yang kudengar sama sekali tidak bergizi. Padahal, setiap hari kalian harus bekerja untuk Guru tanpa henti.

  • Engineer F : Tenaga kami bukan dari makanan dan minuman, tetapi dari Dzat yang namaNya kami lafazkan setiap saat. Semua yang kami kerjakan hanyalah sarana dan bukan tujuan.

Direktur : Dan kalian diwajibkan mengucapkan ‘bacaan tertentu’ ribuan kali setiap hari, sementara tenaga kalian diperas seperti kuda!!

  • Kepala Cabang G : Kewajiban itu latihan terbaik dan sangat sederhana. Saat hati ‘berdzikir’ timbul rasa senang; hilang rasa malas, letih dan enggan; hal itu membuat kami selalu bekerja tuntas. Dan tubuh lelah berarti nafsupun payah.

Karena penasaran dengan apa yang didengarnya, Sang Direktur menemui langsung Sang Guru sufi dan bertanya : Apa yang telah Kau lakukan? Bukankah engkau seharusnya mendidik mereka menjadi seorang ahli ibadah, yang takut pada neraka dan rindu kepada surga? Tetapi yang kulihat bukan seperti itu?

  • Sang Guru menjawab : Aku hanyalah Guru. Apa yang kutunjukkan pada mereka tidak kurang dari yang diajarkan Guru Sufi lebih seribu tahun yang lalu. Aku tidak mengajarkan sesuatu yang baru.

*****

  1. 17/06/2009 pukul 00:50

    http://tarekathaqqani.wordpress.com

    Kunjungi artikel kami KESESATAN NAZHIM. Terimakasih.

  2. Farid
    10/08/2009 pukul 06:18

    makanya kuimpikan selalu, plajaran sd sampai perguan tinggi itu hanya wajib dua: 1. AHLAK (sarinya tasauf) 2. OLAHRAGA.
    Lainya pilihan, suka2 hati, minat bakat.
    Di sini sdh mirip mimpiku itu, hanya sj porsi pelajaran ahlak masih kurang.
    Klo di indo? entah.
    yg jelas mbah surip ketawa sampai kelelahan.

    • 10/08/2009 pukul 07:51

      mas Farid, terimakasih sudah berkunjung.
      Di Jerman ada pelajaran akhlak juga?
      Hebat. Indonesia kalah telak. Ethic aja masih di tingkat seminar, belum masuk buku.
      Salam hormat selalu kagem penjenengan dan keluarga.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: