Para Guru

22/12/2009 15 komentar

Berkeliling ke seluruh penjuru
Membaca semua buku
Buah karya Para Guru
Baik yang terbuka atau tertutup

Ternyata kesimpulan yang kudapat hanya satu
Para Guru hanya menyampaikan yang diperlukan
Para Guru tidak berdusta
Hanya saja,
Mereka tidak menyampaikan segalanya!!

Tag:,

HIKMAH

20/12/2009 3 komentar

Perbuatan buruk
selalu berpulang kepada pelakunya
Tidak akan pernah akibat buruk
kembali kepada selain pelakunya
Kecuali itu adalah ujian dari Allah semata.

Siang itu terang
Jangan kau gelapkan
dengan perbuatan burukmu.
Malam itu panjang
Jangan kau pendekkan
dengan tidurmu.

(Dari Ust. Yusuf Mansyur dalam Kado Panjang Umur, 2008)

Tag:

H A M P A

22/11/2009 15 komentar

Murid berkata :

Aku datang kepadamu
dengan tangan hampa

Guru berkata :

Buanglah kehampaan itu
Sekarang juga

Murid berkata :

Bagaimana aku bisa membuangnya?
Ini hanya kehampaan belaka

Guru berkata :

Kalau begitu, bawalah serta
ke mana saja engkau suka

***

(Dikutip dari A.J. Mello, Burung Berkicau, 1991, hal 127, dengan sedikit penyesuaian)

 

Tag:, ,

Mencari Hakikat Di Alam Semesta

19/10/2009 33 komentar

Benarkah langit itu biru, taman itu hijau dan pasir itu putih.

Benarkah madu itu manis, maja itu pahit.

Apakah kayu itu benda kaku, sutera itu lemas.

Benarkah batu itu benda mati.

Betulkah kaca itu bening, tembok itu masif tak tembus cahaya.

*

Tentu saja tidak.

Semua yang bisa dilihat, diraba, dicium dan dirasa bukanlah hakekat. Cahaya yang terbias melalui prisma terurai menjadi tujuh. Apakah tujuh warna itu hakikat?

Tidak.

Tujuh warna adalah spektrum panjang gelombang, perbedaan frekuensi, tidak lebih dan tidak kurang.

Namun itulah keterbatasan mata manusia.

Kelemahan mata kita adalah nikmat Allah sebagai indera yang tidak mampu melihat spektrum gelombang dan merasakan getaran frekuensi sebagai getaran. Yang terjadi hanyalah reaksi saraf di selaput jala mata yang menerima getaran dan meneruskan ke pusat syaraf di otak yang menterjemahkan getaran berita syaraf menjadi warna dan bentuk.

Tetapi gelombang cahaya bukanlah warna. Daun yang hijau bukanlah hijau.

Hijau adalah bahasa otak yang menerima getaran syaraf berdasarkan informasi selaput jala dari sejumlah getaran gelombang dengan frekuensi tertentu yang datang ke arah kita setelah ditolak oleh daun yang menerima cahaya.

Warna-warna pada hakikatnya adalah bukan warna.

***

Gula adalah gula. Manisnya gula bukanlah hakikat gula. Untuk yang sehat gula itu manis. Bagi si sakit, syaraf lidahnya memberi isyarat yang berbeda… gula itu pahit. Manis dan pahit adalah bahasa otak, sedangkan gula adalah GULA.

Dinding tembok tidaklah masif. Karena dinding terdiri dari molekul yang terikat dalam ruang kosong antar molekul. Molekul terdiri dari atom yang tergabung dalam ruang antar atom. Sayangnya mata kita amat lemah dan tidak mampu melihat elektron berputar seperti planet di sekeliling matahari. Tembok menjadi masif, karena mata tidak mampu melihat ruang kosong diantara atom dan molekul.

***

Maka seniman menampilkan dunia yang berbeda, karena dunia ini memang tidak seperti yang terlihat. Jika kita melihat langit itu biru, seniman menggambarkan hitam legam bergaris putih atau seperti bulu merak aneka warna.

Seorang saintis berbeda dengan seorang seniman. Jika seniman mencari hakekat dengan intuisi dan perasaan, maka saintis menggunakan rumus-rumus dan hitungan.

Maka hakikat bintang berjarak 5 juta tahun cahaya dari bumi tidak kita tahu. Karena yang kita lihat adalah masa lampau bintang jutaan tahun yang lalu. Karena itu mata adalah mudah dibohongi. Mungkinkah kita silau oleh kilatan cahaya sesuatu yang sebenarnya tidak berwujud.

Karena mata yang lemah, sinar ultra violet tidak terlihat. Begitu juga sinar infra merah. Meskipun secara hakikat kedua sinar tersebut ada, karena panjang gelombangnya tercatat oleh alat.

***

Lidah dan syaraf perasa yang tidak sempurna, ditambah otak yang mudah dimanipulasi. Jadi, dimanakah letak kekuatan manusia?

Alam yang kita lihat bukanlah alam sebenarnya, semata-mata istilah yang kita berikan sendiri. Padahal seluruh tanggapan indera kita bersifat relatif, bukan hakikat.

Yang berwarna sesungguhnya tidak berwarna
Yang masif sesungguhnya tidak masif
Yang terlihat sesunguhnya tidak terlihat
Yang terbatas sesungguhnya tak terbatas.

Lalu dimanakah mencari hakikat di alam semesta??

SYAIR RUMI (Lagi)

15/10/2009 6 komentar

HAKIKAT PARA GURU SUFI


Guru-guru melihat lebih banyak dalam bata

daripada yang kau lihat dalam cermin

Mereka menyelam dalam karunia

bahkan sebelum dunia terlahir


=


Mereka sudah hidup lama sebelum badan dilahirkan

Mereka melihat panen ketika gandum masih berupa biji

Mereka memahami makna sebelum definisi

Mereka menemukan mutiara, kendati tak ada lautan

=


Ngengat bodoh menginginkan cahaya dan bukan api

Ngengat sufi mengharapkan api, untuk mencapai cahaya


=


Orang-orang yang ingkar

ditakdirkan tidak beriman kepada takdir


=


Bila engkau tidak menyadari

dirimu sebagai seekor keledai

engkau pastilah seekor keledai


=

(Sumber : Hari-hari Bersama Rumi – Timothy Freke, Pustaka Hidayah 2003, dengan perubahan)

SYAIR CINTA RUMI

11/10/2009 33 komentar

KUMPULAN SYAIR CINTA KARYA JALALUDIN RUMI

I.

Cinta mengubah kepahitan menjadi manis

tanah dan tembaga menjadi emas

yang keruh menjadi jernih

si pesakitan menjadi sembuh

penjara menjadi taman

derita menjadi nikmat

kekerasan menjadi kasih sayang

II.

Cintalah yang telah melunakkan besi

mencairkan batu

membangkitkan yang mati

meniupkan kehidupan pada jasad tak bernyawa

mengangkat hamba menjadi sang majikan

.

III.

Cinta bagaikan sayap

dengannya manusia terbang di angkasa

menggerakkan ikan menuju jala sang nelayan

menghantar si kaya meraih bintang di langit ketujuh

Cinta berjalan di gunung

maka gunungpun bergoyang menari

IV.

Cinta itu kekayaan sejati

takkan bersatu dengannya

singgasana raja dan sultan

siapa yang telah mencicipi

takkan ada lagi anggur yang melebihi

Cinta adalah raja diraja

kekuasaan rajapun bersujud di hadapannya

sultan dan khalifah menjadi budaknya

V.

Cinta bagaikan penyakit tanpa obat

setiap penderita meminta ditambahkan penderitaannya

dengan suka cita mereka berharap

kepedihan dan derita dilipatgandakan

Takkan ada minuman di dunia

yang manisnya melebihi racun ini

Takkan ada lagi kesehatan di dunia

yang lebih baik dari penyakit ini

Cinta memanglah penyakit

tetapi, penyakit yang menyembuhkan semua penyakit

siapa saja yang pernah mengidapnya

takkan pernah lagi menderita penyakit lain

VI.

Cinta adalah warisan Sang Adam

sedangkan kecerdikan itu barang dagangan syetan

tempat si cerdik dan bijaksana bersandar pada jiwa dan akalnya

Cinta berarti penyerahan dri

karena akal bagaikan seorang perenang

yang terkadang sampai ke tepian

sering juga tenggelam di tengah jalan

Tak sebanding dengan Cinta ini

ibarat bahtera Nuh yang terselamatkan

VII.

Tidak setiap kita berhak dicintai

karena syarat dicintai adalah akhlak dan keutamaan

namun ambil bagianmu sebagai pecinta dan nikmatillah

Jika dirimu tidak menjadi yang dicintai

maka jadilah yang mencintai

Jika dirimu tidak beruntung menjadi Yusuf

tak ada halangan bagimu menjadi Ya’kub

Siapakah penghalang bagimu untuk mecintai…

*

*

*

(Dicuplik dari sana-sini, dari berbagai buku dan literatur. Karena hampir semua buku Indonesia tentang Rumi diterjemahkan dari bahasa Inggris, menurut saya pribadi ada yang kurang dalam rasa bahasa  - jadi dengan sangat terpaksa saya ubah disana-sini untuk menyesuaikan dengan rasa bahasa yang “menurut saya” lebih enak di hati. Mudah-mudahan tidak ada makna yang berkurang. Seandainya ada yang merasa tidak cocok dengan terjemahan ini, mohon dimaklumi saja)

Risalah Doa

05/10/2009 14 komentar

Yang Diperhatikan Saat Berdoa


I.

5

Tahukah Dirimu Doa yang Sia-sia?

Yaitu doa yang terucap dengan suara sumbang

dari hati yang lalai dan bercabang

dan pikiran yang selalu mengembara

5

II.

5

Tahukan Dirimu Doa yang Makbul dan Mustajab??

Yaitu doa yang muncul dari hati penuh harap,

pikiran jernih yang terpusat

dan lisan yang tegas sempurna

5

III.

5

Perhatikanlah doamu,
karena risalah doa adalah memohon
perlindungan serta kemudahan

*

Lebih baik bagimu meminta perlindungan
dari sampah kemungkaran dan dengki,
dendam dan pengkhianatan
daripada memohon diberikan keteguhan iman

Karena yang pertama kau akui dirimu sebagai hamba yang membutuhkan
sedangkan yang kedua kau angkat dadamu di hadapanNya meminta ujian

*

Maka, berhati-hatilah dalam meminta
Lebih baik memohon perlindunganNya
dari amarah dan godaan syetan,
sifat tergesa-gesa dan nafsu yang melemahkan
daripada memohon dianugerahi kesabaran

Karena yang pertama kau mohon belas kasih dan kekuatan dariNya
dan yang kedua kau pentang kuat kakimu, siap menghadapi badai dariNya

*

Pikirkanlah dalam-dalam doamu
Lebih selamat bagimu meminta perlindunganNya
dari kemiskinan dan kefakiran,
kekikiran dan jeratan hutang
daripada kau mohon anugerah kekayaan

Karena yang pertama kau sadar bahwa semua hanya milikNya
sedangkan yang kedua kau mengira dirimu lebih hebat dari Tsa’labah

****

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.