Keindahan Di Siang Hari

MUNJUNG

Dalam bahasa Jawa, munjung berarti menjunjung, meletakkan sesuatu di atas kepala. Kata menjunjung lebih sering digunakan sebagai arti kiasan seperti pada frasa kalimat : menjungjung harkat dan martabat bangsa, menjungjung adat-istiadat, menjunjung kesusilaan, dan sebagainya. Kata menjunjung dimaknai kepada suatu perbuatan baik . Menjunjung berarti menghormati dan mentaati.

Di beberapa kampung di Jawa Tengah – Solo, Boyolali, Klaten dan Sragen, pada bulan Ramadhan sekarang ini dipenuhi dengan kegiatan MUNJUNG. Kurang jelas bagi saya pemaknaan munjung dalam kaitannya dengan Ramadhan, karena ini hanya sebuah tradisi.

Sebuah kebetulan, mertua saya termasuk seorang yang paling tua di kampungnya. Dan bersamaan dengan datangnya puasa, kegiatan munjung dimulai. Hampir setiap hari datang orang ke rumah mertua, bersilaturahim dan sekaligus munjung. Munjung yang dimaksud adalah memberi sesuatu  yang bermaanfaat untuk orang yang dipunjungi.

Sesuatu itu biasanya berkisar antara gula – teh – telur. Ada juga pengusaha batik munjung daster batik 2 stel setiap tahun. Ada yang munjung telur bebek sekeranjang. Tak terhitung gula dan teh yang tersimpan di lemari. Sang Mertua tidak bisa munjung, karena tidak ada lagi yang lebih tua darinya. Sebagai warga muda usia, istri saya termasuk rajin munjung, kepada yang lebih tua dan dihormati.

Munjung tidak bisa diberikan kepada sembarang orang. Entah siapa yang memulai tradisi ini, kegiatan munjung lebih ditujukan kepada para tauladan dalam kegiatan agama, pengabdi lingkungan dan orang-orang yang selalu terlibat dalam kebaikan.

Munjung berbeda dengan dengan sedekah. Munjung lebih mirip hibah/pemberian dari “yang muda” kepada “yang lebih tua”.

Munjung menjadi simbol dari menghormati dan menjunjung tinggi norma tradisi. Munjung tidak mesti diharapkan, tetapi menjadi acuan. Silaturahim kepada yang dihormati, meminta nasehat dan kata-kata baik, saling mendoakan dalam kebaikan.

Karena itulah, munjung menjadi keindahan tersendiri di bulan ini.

Sungguh, Puasa menjadi lebih indah dengan hati yang bersyukur dan pikiran yang terbuka.

***

  1. diah pramesti
    24/08/2009 pukul 09:33

    Sama2 orang jawa niy jd tradisinya ga beda jauh ya…
    cuma didaerahku biasanya menjelang hari raya, itu jg ke sesama saudara aja
    yg dianggap sesepuh/lebih tua.
    dulu wkt kecil paling seneng klo disuruh nganterin, soalnya pulang2 kantong tebeell… :D
    jd bernostalgia niy…

    • 24/08/2009 pukul 20:56

      Munjung adalah satu tradisi yang baik. Menyenangkan jika mengerti dan memahami apa yang terjadi di dalam kegiatan “munjung” itu. Memberi – menerima – memberi – menerima … rantai yang tidak terputus…
      Salam takzim.

  2. Fitri
    25/08/2009 pukul 19:40

    Lam kenal. :D

    • 25/08/2009 pukul 20:54

      Sudah sering berbalas kunjungan kok…

  3. 26/08/2009 pukul 12:25

    memberi dan memberi…
    mari berbagi…

    @Kang refa, udah saya jawab hubungan antara LHC di CERN dengan Osmos(the tunnel).

    Kang, kalo file Eternity Tower nya udah dibaca, kasih tau pendapat Kang refa bagaimana

    _______________

    refa : OK friend. Hanya ada sedikit masalah di komputerku… baru diinstall ulang! MS office-nya ketinggalan, jadi belum sreg bacanya pake Notepad. Tunggu sabar ya….
    Terimakasih.

  4. batjoe
    05/09/2009 pukul 00:06

    bagus sekali tradisinya ya mas dan ibu juga orang jawa tengah cuma lama di balikpapan; saya malah belum pernah kejawa.
    dan bilang ibu di jawa banyak sekali tradisi2 yang menyangkut kebajikan ya mas..
    salam hangat mas dan mas juga slah satu blog yang sering saya buka dan baca.
    sedikit tapi enak dibacanya

    ____________
    refa : … alhamdulillah, di sekitar tempat saya banyak sekali yang bisa digali dari kearifan turun-temurun yang jelas-jelas diwarnai oleh Islam. Di Indonesia Timur juga saya sering menjumpai keindahan-keindahan dari tabiat masyarakat yang patut dicontoh pula.
    Terimakasih untuk saudaraku @batjoe yang sering berkunjung.

  5. 24/09/2009 pukul 23:50

    inilah yang sangat kusuka dariku sebagai orang islam yg”indonesia”, lebih khusus lagi “jawa”. Tradisi yang ada “lebih” banyak “taadduban”.@al-islam,huwa ahlaqul karimah@

    ____________
    refa : alhamdulillah … semakin mudah difahami bahwa keindahan kebenaran dapat muncul kapan saja, dari mana saja…

  6. 22/01/2012 pukul 13:49

    S
    a
    l
    a
    m
    k
    e
    n
    a
    l
    by
    lasta

  7. 26/07/2013 pukul 22:30

    Thanks for the marvelous posting! I actually enjoyed reading it,
    you could be a great author.I will always bookmark your blog and will
    eventually come back someday. I want to encourage yourself to continue your great writing, have a nice afternoon!

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: