Beranda > Wejangan Guru > Guru Sufi : Tentang Bunga dan Cita-cita

Guru Sufi : Tentang Bunga dan Cita-cita

Guru Sufi berkata kepada murid muridnya :

  • Cita-cita ibarat setangkai bunga langka nan indah yang tumbuh di sebuah pulau. Apa yang kalian lakukan untuk mendapatkannya?

A : Aku akan segera membeli perahu dan berlayar.

B : Aku tak mampu membeli, jadi aku akan menyewa perahu.

C : Aku akan berenang. Pulau itu dekat, dan aku yakin mampu mencapainya.

D : Aku akan membuat perahuku dahulu, lalu aku akan berangkat.

E : Aku tak mampu membuat perahu, aku akan membuat rakit saja.

F : Aku akan bekerja di dermaga. Suatu hari nanti, jika ada perahu menuju pulau itu, aku akan menumpang.

G : Aku akan pergi mencari uang ke kota. Jika hartaku cukup, aku akan mampu menyewa perahu atau bahkan membelinya, dan aku bisa berlayar menuju pulau itu.

H : Aku akan mencari pekerjaan di kapal. Siapa tahu saja, suatu saat kapal tempatku bekerja singgah di pulau itu dan aku bisa mendarat disana.

Guru : Kenapa diam saja I ? Bagaimana denganmu ….?

I : Aku akan berdoa saja di tepi pantai. Semoga Allah swt. menurunkan angin kencang dan menghantarkan setangkai bunga itu menyeberangi laut menuju pantai tempatku berdiri..

…..

Hidup ini melangkah ke depan menuju cita-cita ….

Jalan berliku tak bisa dibandingkan dengan mulianya tujuan.

Kalau hidup begitu mudah, tidak ada lagi amal yang ditimbang.

About these ads
  1. farid
    11/06/2009 pukul 15:42 | #1

    kebenaran selalu sederhana.
    org hanya diminta nyerahkan dan meminta hanya ke Tuhan. Memeintalah –begitu Tuhan– bunga itu kan ku kirim..syaratnya kamu harus yakin dan percaya hanya ke Aku. Aku adalah segalanya, hrs kau letakkan di atas apapun.

    Lalu Tuhan akan bekerja sendiri mewujudkan itu semua. Di a slalu merespon. [Jangankan DIA, tukang becak sj kita undang merespon].
    Sangat sederhana bukan?

    Tp duhai naifnya kita..
    Alih2 kita nyerah ke Allah,kita malah ikut2an ngatur, ngalah2in Dia, bahkan jujur saja kadang kita ‘buang’ itu Tuhan. Klo sudah begini, pasti kwatir, kemrungsung, deg2 pyar, gelisah, sakit2an dan gunung sengsara yg di dapat..

    Bisa saja nyampai ke pulau dan dapatkan bunganya..tp dengan berdarah2, kusut dan kelelahan,bahkan tua atau malah sebentar kemudian mati. Sia2. Tak bermakna hidupnya.

    Eit, ntar dulu bung. Maksud lu, kita suruh fatalis gitu. Kagak bs bgitu dong. Tuhan ka gak ngrubah nasib kite klo kite gak duluan ngrubah.

    Hayo gimana ini…

    • refa
      11/06/2009 pukul 21:54 | #2

      Terimakasih bung Farid.
      Nasihat sang Guru bisa diinterpretasi oleh siapa saja dari kelompok dan golongan manapun. Tidak ada kebenaran mutlak dalam amtsal itu… semuanya benar.
      nb. (ssst… sebenarnya ada jawaban ke sepuluh – murid J – tapi gak aku tulis… bisa bikin heboh!)

  2. quantumillahi
    16/06/2009 pukul 08:06 | #5

    Apabila KEKASIH ALLAH ada di bukit Es Anu yang tinggi dan terjal, walau dengan merangkak dan terasa dingin membeku wajib kita datangi.
    Hadits:
    Menyayangi yang KUsayang, AKU sayang.
    Mencintai yang KUcinta, AKU cinta
    Mengasihi yang KUkasih, AKU kasih.
    Sukses mas Refa, boleh dong saling tukar link, ijin mengelink ke weblog saya.

    • refa
      16/06/2009 pukul 16:16 | #6

      terimakasih… dipersilakan link..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: